Sabtu, 23 Juni 2012

Israel Desak Barat Berlakukan Sanksi Lebih Ketat Anti-Iran





Wakil Perdana Menteri Israel, Shaul Mofaz menyerukan sanksi ekonomi lebih ketat Barat dan Amerika Serikat terhadap Iran atas program energi nuklirnya.

"Sudah saatnya bagi Amerika Serikat dan Barat untuk menjatuhkan sanksi lebih berat dalam mengembargo sektor minyak dan keuangan guna menghentikan program pengembangan nuklir Iran," kata Mofaz dalam sebuah pernyataan yang dirilis setelah pertemuannya dengan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton, Rabu (20/6).

Dia juga menekankan tuntutan "untuk terus menyiapkan semua pilihan" selain sanksi ekonomi, seraya mengisyaratkan bahwa serangan militer terhadap Iran ditujukan untuk menghentikan kegiatan nuklirnya masih menjadi pilihan terbuka.

Sebelumnya pada hari yang sama, Mofaz juga bertemu dengan Rep Howard Berman, anggota Komise Urusan Luar Negeri di parlemen AS, yang membahas mekanisme implementasi sanksi yang lebih melumpuhkan [terhadap Iran].

Seruan Israel untuk lebih banyak sanksi terhadap Iran mengemuka  setelah Tehran dan Kelompok 5+1 - Inggris, Cina, Perancis, Rusia dan Amerika Serikat ditambah Jerman – mengakhiri dua hari perundingan di Moskow, Selasa (19/6).

Iran dan Kelompok 5+1 sepakat untuk melanjutkan perundingan pada tingkat teknis di Istanbul pada 3 Juli mendatang.

Pokok perundingan adalah program energi nuklir Iran, sementara para delegasi Iran menekankan kembali hak mutlak Republik Islam untuk memperkaya uranium demi tujuan damai dan menuntut pencabutan sanksi.

AS, Israel dan beberapa sekutunya menuduh Tehran mengejar tujuan militer dalam program energi nuklirnya.

Dengan alasan tersebut, AS dan Uni Eropa baru-baru ini memberlakukan sanksi sepihak terhadap sektor keuangan dan minyak Iran.


IRIB/The Truth Seeker Media




Artikel Terkait: